.quickedit{display:none;}

Kamis, 04 Februari 2016

Mengubur Ari-ari


Dalam masyarakat Jawa, terdapat kebiasaan di masyarakat tatkala seorang ibu melahirkan bayi. Biasanya pihak keluarga akan mengubur ari-ari atau plasenta ketika bayi sudah lahir. Ada rasa syukur yang mendalam ditumpahkan dengan beragam cara. salah satunya yang lebih dikenal adalah mendem ari-ari (mengubur ari-ari/plasenta) yang disertai berbagai macam perlengkapan ada pensil, buku dll. Dan di atasnya dipasang lampu yang dinyalakan setiap malam selama selapan (35 hari).

Ari-ari atau aruman dipercayai merupakan saudara muda dari bayi yang dilahirkan. Hal ini disebabkan kelahiran bayi selalu diikuti dengan keluarnya ari-ari. Selain memiliki adik ari-ari bayi juga memiliki kakak yakni kawah. hal ini merupakan salah satu bentuk penghormatan dan penjagaan terhadap ari-ari adalah dengan menguburkannya dengan cara dan tempat yang baik.

Pada hakikatnya penanaman ari-ari ini dibenarkan dalam Islam bahkan disunnahkan. Akan tetapi menyertakan berbagai benda yang bernilai dianggap tidak baik. Karena termasuk dalam kategori tabdzir (menghamburkan).

 Mengenai hukum sunnah mengubur ari-ari terdapat keterangan dalam kitab Nihayatul Muhtaj

وَيُسَنُّ دَفْنُ مَا انْفَصَلَ مِنْ حَيٍّ لَمْ يَمُتْ حَالاًّ أَوْ مِمَّنْ شَكَّ فِي مَوْتِهِ كَيَدِ سَارِقٍ وَظُفْرٍ وَشَعْرٍ وَعَلَقَةٍ ، وَدَمِ نَحْوِ فَصْدٍ إكْرَامًا لِصَاحِبِهَا.  

“Dan disunnahkan mengubur anggota badan yang terpisah dari orang yang masih hidup dan tidak akan segera mati, atau dari orang yang masih diragukan kematiannya, seperti tangan pencuri, kuku, rambut, ‘alaqah (gumpalan darah), dan darah akibat goresan, demi menghormati orangnya”.

Adapun tentang haramnya tabdzir sehubungan dengan menyertakan segala benda di lingkungan kubur ari-ari terdapat dalam Hasyiyatul Bajuri:

(المُبَذِّرُ لِمَالِهِ) أَيْ بِصَرْفِهِ فِيْ غَيْرِ مَصَارِفِهِ (قَوْلُهُ فِيْ غَيْرِ مَصَارِفِهِ) وَهُوَ كُلُّ مَا لاَ يَعُوْدُ نَفْعُهُ إِلَيْهِ لاَ عَاجِلاً وَلاَ آجِلاً فَيَشْمَلُ الوُجُوْهَ المُحَرَّمَةَ وَالمَكْرُوْهَةَ.

“(Orang yang berbuat tabdzir kepada hartanya) ialah yang menggunakannya di luar kewajarannya. (Yang dimaksud: di luar kewajarannya) ialah segala sesuatu yang tidak berguna baginya, baik sekarang (di dunia) maupun kelak (di akhirat), meliputi segala hal yang haram dan yang makruh”.

Demikian keterangan ini diambil dari buku Ahkamul Fuqaha’ Solusi Problematika Umat yang memuat hasil keputusan Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama dari 1926-2010. (ulil)

Bagi orang awam terkadang begitu meyakini betul , katanya mbah saya ..??? 
Dengan begitu kita tahu akan hukum sebenarnya yang mana diperbolehkan atau tidaknya. sehingga kita terhindar dari hal hal yang tidak berguna , selamat dunia dan akhirat. Semoga Allah SWT mengampuni semua dosa kita dan tetap terjaga dari keburukan yang dapat menyekutukan Allah SWT selain daripadaNYA. amien.


 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar